Reconstruction of the Interpretation Method of Imam Suyuthi and Imam Mahalli in Tafsir Jalalain
Keywords:
Tafsir Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli, Jalaluddin al-Suyuti, Ijmali methodAbstract
Artikel ini merekonstruksi metode interpretasi yang digunakan oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H) dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitab Tafsir Jalalain, salah satu kitab tafsir klasik yang paling banyak dipelajari di dunia Islam, terutama dalam tradisi Syafi'i dan pendidikan pesantren. Meskipun ditulis oleh dua ulama dari generasi berbeda, Tafsir Jalalain menampilkan gaya penafsiran yang terpadu, ditandai dengan kejelasan, keringkasan, dan aksesibilitas. Al-Mahalli memulai penulisan dari surah al-Kahfi hingga an-Nas, lalu al-Fatihah, namun wafat sebelum menyelesaikan sisanya. As-Suyuthi kemudian melanjutkan dari surah al-Baqarah hingga al-Isra' dengan gaya yang hampir identik. Metode yang digunakan adalah ijmali (global/ringkas), di mana penjelasan hanya mencakup makna esensial tanpa perdebatan teologis atau linguistik yang panjang. Empat fitur utama metode ini adalah: (1) penjelasan nama surah, jumlah ayat, dan klasifikasi makkiyah-madaniyah; (2) penjelasan aspek bahasa dan qira'at; (3) penjelasan makna kalimat; (4) interpretasi kata menggunakan sinonimnya. Artikel ini menyimpulkan bahwa koherensi antara bagian al-Mahalli dan as-Suyuthi dihasilkan dari upaya sadar as-Suyuthi untuk meniru gaya gurunya, memastikan keseragaman tekstual. Tafsir Jalalain menjadi model penting tafsir ringkas namun berwibawa yang terus memengaruhi keilmuan Islam dan praktik pedagogik hingga saat ini.
References
Husayn Ahmad Amin. (1995). Seratus tokoh dalam sejarah Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad Husain adz-Dzahabi. (2000). At-Tafsir wa al-Mufassirun (Juz I). Cairo: Maktabah Wahbah.
Jalaluddin al-Mahalli., & Jalaluddin as-Suyuti. (1996). Terjemahan Tafsir Jalalain (Jilid 1). Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Jalaluddin al-Mahalli., & Jalaluddin as-Suyuti. (n.d.). Tafsir Jalalain. Jakarta: CV Pustaka Assalam.
Abuddin Nata. (2014). Tafsir ayat-ayat pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy). Jakarta: Rajawali Pers.
Manna’ Khalil al-Qattan. (2016). Studi ilmu-ilmu Qur’an. Bogor: Litera Antar Nusa.
Jalaluddin as-Suyuti. (2005). Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.
Syafa, A. Z. (2004). Muslim figures. Surabaya: Putra Siswa.
Saleh, W. (2004). The formation of the classical tafsir tradition. Leiden: Brill.
Al-Tabari. (2001). Jami‘ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Cairo: Dar Hijr.
Carl Brockelmann. (1943). Geschichte der Arabischen Litteratur (GAL). Leiden: Brill.
Haleem, M. A. S. Abdel. (2002). The Jalalayn Tafsir: A classical Sunni exegesis. Journal of Qur’anic Studies, 4(2).
Shams al-Din al-Sakhawi. (1353 H). Al-Daw’ al-Lami‘ li Ahl al-Qarn al-Tasi‘. Cairo: Dar al-Kutub.
Rippin, A. (1988). The function of Asbab al-Nuzul in Qur’anic exegesis. Bulletin of SOAS, 51(1).
Powers, D. (1988). Imam al-Suyuti’s approach to Qur’anic exegesis. Islamic Studies, 27(3).
Ibn Kathir. (1998). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Islami, M. (2016). Conciseness and authority in Tafsir al-Jalalayn. Qur'anic Studies Journal.
Mohammad Nawawi. (2018). Metode tafsir dan corak penafsiran para mufassir. Jakarta: Prenada Media.




